Perintah jilbab telah disebutkan dalam ayat
berikut,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﻗُﻞْ ﻟِﺄَﺯْﻭَﺍﺟِﻚَ ﻭَﺑَﻨَﺎﺗِﻚَ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳُﺪْﻧِﻴﻦَ
ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻣِﻦْ ﺟَﻠَﺎﺑِﻴﺒِﻬِﻦَّ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺃَﻥْ ﻳُﻌْﺮَﻓْﻦَ ﻓَﻠَﺎ ﻳُﺆْﺫَﻳْﻦَ ﻭَﻛَﺎﻥَ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di
ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al
Ahzab: 59).
Wahai ukhti muslimah, sampai kapan engkau
enggan berjilbab?
Tanyakanlah pada dirimu, apakah engkau akan menunda sampai maut menjemputmu?
Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah
ia...barangkali itu menjadi penyebab ampunan
bagimu di akherat.
Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya
kaum muslimin, maka singkirkanlah ia, barangkali itu menjadi penyebab
dimudahkannya jalanmu menuju syurga.
Jika engkau menjumpai anak
ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan
induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan
keluargamu di surga.
Jika engkau melihat orang tua membutuhkan
tumpangan, maka antarkanlah ia...barangkali itu menjadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.
Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka
ajarkanlah alif ba' ta' kepada anak-anakmu, setidaknya itu menjadi amal
jariyah untukmu..yang tak akan terputus
pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.
JIKA ENGKAU TIDAK BISA BERBUAT KEBAIKAN SAMA SEKALI, MAKA TAHANLAH
TANGAN DAN LISANMU DARI MENYAKITI… SETIDAKNYA ITU MENJADI SEDEKAH UNTUK
DIRIMU.
( Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata, “Berapa
banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya.
Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya”.)
Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga
bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi
bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang
melanda.
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun
(hanya) kamu bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum.” (HR.
Muslim).
Oleh Ust. Abu Abdillah Fadlan Fahamsyah.
Ibnul Qayyim berkata,
“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah
kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin
untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin,
selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan
hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya-
membukakan jalan lain yang lebih bermanfaat
bagimu.
Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.
Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan
terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang
lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di
dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang
pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.
Lalu ketika masa
menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah
membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang
sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan
dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat
dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.
Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat
jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba
yang beruntung-DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang
berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.
Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk
mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan
lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang
mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan
murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian
yang mulia dan
berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali).
Islam adalah agama akhlak, Sehingga diturunkan ke bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Tahukah anda apa itu akhlak yang dimaksud olehIslam ?
Akhlak menurut Islam adalah Ilmu & amal.
Yaitu ilmu tentang Allah & tentang segala hal
yang dicintai Allah & mengamalkannya.
Aisyah berkata tentang akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.
Tahukah anda akhlak luhur dapat
menyelamatkanmu dari kejahatan?
Simak pernyataan Khadijah kepada Rasul
shallallahu ‘alaihi wasallam, “Demi Allah, Dia
tidak akan meninggalkanmu, sebab engkau adalah orang yang selalu
menjaga silaturahmi, menolong orang kesulitan, membantu orang yang lemah
& menjamu tamu..”
Saudaraku! Ibu kita khadijah memberi
pemahaman bahwa orang baik & berakhlak akan selalu dijaga oleh Allah dari segala hal yang membahayakannya..
Berkata Imam Nawawi,
“Pernyataan Khadijah memberi pelajaran penting bahwa akhlak &
perangai yang baik adalah sebab keselamatan dari segala kejahatan.”
(Syarh sahih Muslim (2/202).
Oleh Ustadz Djazuli.
Nu'man
bin Tsabit yang dikenal dengan sebutan Abu Hanifah, atau populer
disebut IMAM HANAFI, pernah berpapasan dengan anak kecil yang berjalan
mengenakan sepatu kayu (terompah kayu).
Sang Imam berkata: "Hati-hati nak dengan
sepatu kayumu itu, jangan sampai kau
tergelincir".
Bocah ini pun tersenyum dan mengucapkan
terima kasih atas perhatian Abu Hanifah.
"Bolehkah saya tahu namamu Tuan?" tanya si
bocah.
"Nu'man namaku", Jawab sang imam.
"Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a'dhom. (Imam agung) itu..??" Tanya si BOCAH.
"Bukan aku yang memberi gelar itu, Masyarakat-lah yang berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku."
"Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir
ke neraka karena gelar...! Sepatu kayuku ini mungkin hanya
menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskan-mu ke
dalam api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya".
Ulama besar yang diikuti banyak umat Islam
itupun tersungkur menangis....
Imam Abu Hanifah bersyukur. Siapa sangka,
peringatan datang dari lidah seorang bocah.
Sebagian
wanita berpendapat bahwa pada hari Jum’at ketika mengerjakan shalat
Dzuhur mereka mengakhirkan hingga selesai shalat Jum’at dengan keyakinan
bahwa shalat Dzuhur sebelum shalat Jum’at selesai dilarang dan tidak
sah.
Namun sebagian lain mengatakan bahwa
mengerjakan shalat Dzuhur pada hari Jum’at
seperti waktu shalat dzuhur di hari lain, tidak
perlu menunggu shalat Jum’at selesai.
Maka apa sebenarnya hukum permasalahan ini menurut syariat?
Disarikan dari berbagai sumber inilah penjelasan kapan wanita mulai shalat Dzuhur di hari Jum’at?
Kita telah mengetahui bersama bahwa shalat
Jumat tidaklah wajib bagi muslimah. Sebagai
gantinya, ia melaksanakan shalat Dzuhur (empat rakaat) di rumahnya.
Seringkali ditanyakan oleh para wanita, kapan mulainya shalat Dzuhur
tersebut? Apakah ketika telah masuk waktu Dzuhur atau barangkali
menunggu sampai shalat Jumat para pria di masjid selesai?
Shalat termasuk ibadah yang telah ditetapkan
waktunya.
Allah berfirman,
“Sesungguhnya shalat adalah kewajiban bagi
kaum mukminin yang telah ditetapkan
waktunya.”(QS. An-Nisa: 103).
Ibnu Mas’ud mengatakan: “Sesungguhnya shalat memiliki waktu khusus,
sebagaimana haji juga memiliki waktu khusus.” (Tafsir Ibn Katsir,
2:403).
Waktu zuhur dimulai sejak zawal (matahari
tergelicir ke arah Barat) sampai bayangan benda sama dengan tinggi bendanya.
Dari Abdullah bin Amrradhiyallahu ‘anhuma, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Waktu zuhur, sejak matahari tergelincir sampai bayangan orang sama
dengan tingginya, sebelum masuk waktu asar.” (HR. Muslim no. 612).
Dari keterangan di atas, para wanita dan orang yang tidak wajib
jumatan, seperti orang sakit atau musafir, mereka bisa memulai shalat
zuhur setelah masuk waktu zuhur, meskipun bisa jadi jumatan belum
selesai. Terlebih, di beberapa daerah semacam Jogjakarta, jumatan
disepakati untuk dimulai tepat jam 12.00. padahal terkadang zuhur
dimulai sebelum jam 12.00.
Renungkan Sejenak.....
.
.
Cobalah mengambil waktu menyendiri, dan
perhatikanlah kesudahan manusia yang dilalaikan dunia, terjebak dalam rutinitas yang menyeretnya menjauh dari Allah.
Adakah mereka menemukan kebahagiaan yang dicari ataukah ditimpa lebih
banyak kesengsaraan, ketidakpuasan, kegelisahan tanpa akhir yang membuat
merana?????
Allah ciptakan dunia untuk diatur, bukan untuk
mengatur. Kesempurnaan milik Allah, dan kebahagiaan itu dari-Nya.
Semesta bertasbih baginya, ikutilah, disitu bahagia