Selasa, 22 Desember 2015

BILA SHALAT TERASA BERAT…





“Bila shalat terasa berat bagimu, maka ketahuilah bahwa di dalam hatimu ada kemunafikan. Karena merasa malas untuk menunaikan sholat merupakan sikap orang-orang munafik yang Allah kabarkan dalam firman-Nya:
وإذا قاموا إلى الصلاة قاموا كسالى
“…Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas… “(QS. An Nisa ‘: 142)
Namun bila engkau merasa bahwa sholat begitu ringan, hatimupun gembira karenanya maka itu merupakan tanda bahwa imanmu kokoh”
(Ibnu Utsaimin dalam syarah Shohih Muslim)

 Catatan:
Sejenak mari kita bertanya pada diri masing-masing, bagaimanakah kedudukan sholat di hati kita..?
Apakah kita termasuk orang yang semangat dalam melaksanakan sholat ataukah sebaliknya.? Jawaban terhadap dua pertanyaan diatas akan menjadi penentu apakah kita termasuk orang yang beriman ataukah orang yang munafik.?
Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita memberi perhatian yang lebih terhadap sholat, yang merupakan tiang agama dan sekaligus sebagai penentu baik buruknya amalan kita. Menjaga sholat berarti menjaga agama.

 Dalam risalah Ta’dzim As-Shalah (hal:6) Prof. Dr. Abdurrazzak bin Abdul Muhsin Al-Abbad mengatakan:
“Agama seorang muslim tidak akan kokoh, amalannya tidak akan baik dan seluruh urusannya baik dunia maupun akhirat akan berantakan sampai ia menegakkan sholat sebagaimana yang diperintahkan. Yaitu dengan keimanan yang kokoh, penghambaan yang tulus serta mengikuti petunjuk nabi shallallahu alaihi wa sallam”
Wallahu a’lam

Oleh Ustadz Aan Chandra Thalib

BOLEHKAH MEMOTONG RAMBUT, DAN KUKU SAAT HAID...??

 



Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Banyak kaum hawa yang bertanya-tanya. -apakah boleh memotong kuku saat Haid?
-apakah boleh memotong rambut saat Haid?
-apakah boleh menyisir rambut saat Haid?
-apakah rambut yang rontok saat Haid,harus di simpan dan dimandikan saat mandi wajib?. Pertanyaan itu yang sering kita tanyakan dengan diri kita sendiri.

Ternyata eh ternyata para Ukhtii.. Tidak terdapat riwayat yang melarang wanita haid untuk memotong kuku maupun rambut. Demikian pula, tidak terdapat riwayat yang memerintahkan agar rambut wanita haid yang rontok untuk di cuci bersamaan dengan mandi paska haid. .
Bahkan sebaliknya, terdapat riwayat yang membolehkan wanita haid untuk menyisir rambutnya.
Padahal, tidak mungkin ketika wanita yang menyisir rambutnya, tidak ada bagian rambut yang rontok. 


Disebutkan dalam hadis dari Aisyah, bahwa ketika Aisyah mengikuti haji bersama Nabishallallahu alaihi wa sallam, sesampainya di Mekkah beliau mengalami haid. Kemudian Nabishallallahu alaihi wa sallambersabda kepadanya ,.. .
Tinggalkan umrahmu, lepas ikatan rambutmu dan ber-sisir-lah (HR. Bukhari 317 Muslim 1211)


Rasulullahshallallahu alaihi wa sallammemerintahkan Aisyah yang sedang haid untuk menyisir rambutnya. Padahal beliau baru saja datang dari perjalanan.
Sehingga kita bisa menyimpulkan dengan yakin, pasti akan ada rambut yang rontok.
Namun Rasulullahshallallahu alaihi wa sallamtidak menyuruh Aisyah untuk menyimpan rambutnya yang rontok untuk dimandikan setelah suci haid.


Hadis ini menunjukkan bahwa rambut rontok atau potong kuku ketika haid hukumnya sama dengan kondisi suci. .
Artinya, tidak ada kewajiban untuk memandikannya bersamaan dengan madsi haid. Jika hal ini disyariatkan, tentu Nabishallallahu alaihi wa sallamakan jelaskan kepada Aisyah agar menyimpan rambutnya dan memandikannya bersamaan dengan mandi haidnya.
Semoga bermanfaat ukhti.. .

CARA MENDIDIK ANAK DENGAN AL-QURAN

 



Sobat, Siapa sih yang tak ingin punya anak yang cerdas, sholeh dan sholehah. Anak yang memiliki kualitas tersebut di atas, seringkali di dalam doa yang diajarkan dalam Islam disebut dengan qurratu a’yun, yakni anak yang dapat menyejukkan mata dan hati kedua orangtuanya.

Tapi bagaimana cara yang bisa dilakukan untuk dapat memiliki anak yang cerdas, sholeh dan sholehah? Jawabannya, didiklah buah hati Anda dengan Al-Qur’an sejak dalam kandungan, sejak masih berupa janin.

Beberapa tahun yang lalu, seorang profesor dari Jepang bernama Prof. Suzuki melakukan sebuah riset yang hasilnya menunjukkan bahwa ibu-ibu hamil yang rajin memberikan stimulus pada janinnya terbukti memiliki anak-anak yang lebih sehat dan lebih cerdas saat mereka dewasa kelak.

Intinya, Suzuki menegaskan stimulasi pada janin sangat terkait dengan tingkat intelegensi. Janin, kata dia, seperti dikutip Nanik Wahyuni dalam buku “Dahsyatnya Ibadah-Ibadah Sunnah Saat Hamil untuk Mencetak Anak Cerdas dan Saleh Salehah” sebenarnya sudah siap menerima stimulus-stimulus edukatif, seperti diperdengarkan musik, diajak berbicara hal-hal yang positif dan lain sebagainya.

Bagi Sobat, terutama seorang muslimah, stimulasi pada janin juga bisa dilakukan dengan cara memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sobat bisa membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan lembut dan suara yang merdu, sambil mengusap perut secara perlahan-lahan seolah-olah mengajak bicara janin dalam kandungan.

Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an sudah terbukti dapat menenangkan hati, dan hati yang tenang sangat berpengaruh pada kecerdasan seseorang. Tentu hal ini juga berlaku pada janin atau calon buah hati. Semakin sering membacakan dan memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an pada calon buah hati, berati semakin sering Sobat memberikan stimulasi-stimulasi edukatif. Selama ini, terkait dengan kehamilan, surat Al-Qur’an yang sering dibaca dan dianjurkan adalah surat Yusuf dan Maryam.

Meskipun sebetulnya, jauh sebelum hasil riset Profesor Suzuki dipublikasikan dan dimuat di The Japan Times Weekly Education tersebut, Rasullullah berabad-abad sebelumnya sudah menekankan betapa pentingnya stimulasi pada janin sejak dalam kandungan. Rasululullah memang luar biasa. Dalam sirah nabawiyah, seperti buku-buku biografi Muhammad yang ditulis Haykal, Martin Lings dan lain sebagainya, Rasulullah selalu diceritakan sebagai pribadi yang punya perhatian yang sangat besar dan kasih sayang pada anak-anak.

Ayo berikan stimulasi-stimulasi edukatif dengan memperdengarkan dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an pada calon buah hati. Insyaallah, akan lahir anak-anak yang cerdas, sholeh dan sholehah. Aamiin.

KISAH TANGISAN RASULULLAH SAW. SEPANJANG MALAM

 



Kisah Tangisan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wasallam Sepanjang Malam
Menangis adalah sebuah reaksi emosi yg wajar.Umumnya, perempuan lebih mudah & lebih sering menangis daripada laki-laki.Masyarakat umumnya menuntut laki-laki agar kuat dan tegar, salah satu bentuknya adlh dgn tdk menangis.

Jika seorang laki-laki kedapatan sedang menangis, cibiran & cemoohan pun akan tertuju padanya. “Kamu itu laki-laki, jangan nangis seperti perempuan!” Laki-laki memang harus kuat, tetapi bkn berarti tak boleh menangis. Menangislah ketika mengingat Allah. Menangislah ketika menyesali dosa-dosa yg telah diperbuat.
 Menangislah... Pernah suatu ketika Rasulullah Saw. menangis sepanjang malam. Apa yg membuat beliau menangis sepanjang malam? Apakah istri? Anak keturunan? Harta benda & kebun-kebun?

 Ternyata bukan karena hal-hal duniawi tersebut. Beliau menangisnya karena dlm shalatnya beliau membaca Al-Quran Surah Al-Ma’idah [5] ayat 118 yang menceritakan doa untuk umatnya, utk kita Beliau shalat sambil menangis hingga waktu subuh tiba. Beliau terus mengulang-ulang ayat tersebut. “Jika Engkau siksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” Kemudian beliau memanjatkan kedua tangan seraya berdoa, “Ya Allah, umatku ... umatku ....” Lalu beliau menangis tersedu-sedu.
 

Allah Ta’ala berkata kepada Jibril, “Wahai Jibril, pergi & temuilah Muhammad. Tuhanmu Maha Mengetahui. Sekarang tanyakan kepadanya, kenapa dia menangis?” Jibril pun menemui Rasulullah Saw. untuk menanyakan sebab musabab beliau menangis. Rasulullah Saw. berterus terang kepada Jibril mengenai kekhawatiran beliau pada umat beliau.
 Jibril pun melaporkan pengaduan Rasulullah itu kepada Allah. Allah menjawab, “Sekarang, pergi & temui Muhammad. Katakan padanya bahwa Aku meridainya untuk memberikan syafaat kepada umatnya & Aku tidak akan berbuat buruk kepadanya.” (HR Muslim dan Ath-Thabari).

 Rasulullah Saw. manusia mulia itu, laki-laki agung itu, menangis dalam shalatnya. Menangis memohon ampunan untuk umatnya, kita.
Maa Syaa Allah. Sungguh besar cinta Rasulullah Saw. pada kita. Bagaimana dengan kita? Menangiskah kita ketika mengingat Allah & RasulNya?.

BERUSAHALAH BERSABAR

 



Berusahalah SABAR dalam kesedihan,
Berusahalah SABAR dalam kekecewaan,
Berusahalah SABAR dalam kesakitan,
Berusahalah SABAR dalam musibah,
Berusahalah SABAR dalam ujian hidup... SABAR itu susah,
SABAR itu capek,
SABAR itu sakit,
SABAR itu bikin stres,
akan tetapi jika kita mampu melewatinya,
m a k a S A B A R itu akan menjadi sebuah KEINDAHAN & ARTI sebuah KEHIDUPAN... Ada kalanya di butuhkan senyuman untuk menangis,
Ada kalanya di butuhkan airmata untuk bahagia,
Ada kalanya di butuhkan canda untuk melepas lelah,
Ada kalanya di butuhkan penat untuk mengukur arti kedamaian,
Ada kalanya di butuhkan "musuh" untuk menjadi korektor,
Ada kalanya di butuhkan "teman" untuk berbagi,
....
Allahumma aamiin

TERKAGUM PADA DUNIA






Sungguh diri ini kadang terkagum-kagum dengan dunia. Begitu terpesona sampai lupa daratan. Dunia pun dikejar-kejar tanpa pernah merasa puas. Sifat qona’ah, merasa cukup dengan setiap nikmat rizki pun jarang dimiliki. Demikianlah watak manusia. Inilah yang terjadi pada banyak orang, termasuk pula pada diri kami.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. 
Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. 

Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid: 20)
Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan, ”Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menceritakan mengenai bagaimanakah hakikat dunia yang sebenarnya. Diterangkan pula bagaimanakah berbagai tujuan dunia serta semangat manusia untuk menggapainya. Sungguh dunia ini benar-benar hanyalah mainan dan melalaikan. Badan jadi dibuat kepayahan dan hati pun dibuat lalai. Inilah realitas yang ada pada pengagung dunia. Lihat saja bagaimana pengagum dunia menghabiskan waktu dan umur mereka dalam hati yang penuh kelalaian, lalai dari dzikir pada Allah, juga lalai dari berbagai ancaman dan peringatan Allah. Lantas lihatlah mereka ketika mereka menjadikan agama sebagai candaan dan kesia-siaan. Hal ini jauh berbeda dengan orang yang sadar akan dunia akhirat (yang pasti ia jumpai). Hati mereka akan senantiasa rindu berdzikir pada Allah, mengenal dan mencintai-Nya. Orang yang memperhatikan akhirat benar-benar akan beramal untuk mendekatkan diri mereka pada Allah.”[*]
Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan kembali, “Hal ini berbeda dengan orang yang mengenal dunia dan hakikatnya. Ia hanya menjadikan dunia sebagai tempat berlalu, bukan negeri yang ia menetap selamanya. Dunia hanya dijadikan negeri sebagai ajang untuk saling berlomba mendekatkan diri pada Allah. Dunia hanya jadi sarana untuk sampai pada Allah. Jika ia melihat orang yang begitu bangga dan saling berlomba dalam harta dan anak, ia balas dengan berlomba (terdepan) dalam amalan sholih.”[*]
 

Sungguh, nikmat dunia dibanding dengan nikmat akhirat amat jauh sekali. Namun kenapa kita lebih mengharap dunia dari akhirat? Mengapa kita lebih mengharap ridho manusia daripada ridho Allah?
[*] Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1423 H, hal. 841

TENANGLAH DAN JANGAN GELISAH ��

 


Rasa gelisah tidak akan menghilangkan kemungkinan terjadinya apa yg kau takutkan di masa depan... padahal rasa gelisah itu telah mencuri kebahagiaanmu di hari ini.
Sehingga praktis rasa gelisah itu tidak mendatangkan manfaat sedikitpun, oleh karena itu Nabi shollallohu alaihi wasallam menuntun kita utk berdoa:
"Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari perasaan gelisah dan bersedih". [HR. Bukhori: 2893]
Maka, buanglah rasa gelisah dari hatimu dan tumbuhkanlah rasa tawakkal, serahkan semua urusan kepada Allah, setelah engkau melakukan usaha yg kau mampui.
Dan jangan lupa, iringilah usahamu dg banyak berdoa. Lalu syukurilah nikmat yg ada di tanganmu..
InsyAllah rasa tenang dan bahagia akan selalu menghiasi hati Anda. ��
Oleh Ustadz Ad Dariny
Berdakwah